Makanan Khas Blitar: Jejak Rasa Tradisi yang Terus Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Berita Utama84 Dilihat
banner 468x60

Makanan Khas Blitar: Jejak Rasa Tradisi yang Terus Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Blitar || Gempar Nees –

banner 336x280

Blitar tidak hanya dikenal sebagai kota sejarah dan tempat peristirahatan terakhir Bung Karno, tetapi juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah derasnya arus makanan modern. Dari warung sederhana di sudut desa hingga pasar tradisional yang mulai ramai sejak subuh, makanan khas Blitar menjadi bukti nyata bahwa identitas budaya bisa dijaga melalui rasa.

Kuliner khas Blitar lahir dari kehidupan masyarakat agraris. Bahan-bahan sederhana seperti singkong, beras, kelapa, dan sayur-mayur lokal diolah dengan kearifan turun-temurun, menciptakan cita rasa yang khas: gurih, pedas, manis, dan membumi.

Salah satu makanan yang paling lekat dengan masyarakat Blitar adalah nasi pecel Blitar. Berbeda dengan pecel daerah lain, sambal pecel Blitar cenderung lebih kental, pekat, dan berani dalam racikan bumbunya. Kencur yang kuat, daun jeruk yang harum, serta kacang tanah sangrai pilihan menjadi ciri utama. Pecel ini bukan sekadar sarapan, tetapi juga simbol kebersamaan—sering disantap di sawah, di pasar, hingga saat hajatan desa.

Tak kalah unik adalah sambal tumpang, sajian berbahan dasar tempe semangit (tempe yang difermentasi lebih lanjut) yang dimasak dengan santan dan rempah. Aroma khasnya memang menantang, namun bagi penikmat kuliner tradisional, sambal tumpang justru menghadirkan rasa otentik yang sulit dilupakan. Hidangan ini mencerminkan filosofi masyarakat Blitar: tidak ada bahan yang terbuang, semua diolah dengan bijak.

Untuk pencuci mulut, Blitar memiliki beragam jajanan tradisional yang kini mulai langka. Jenang grendul, misalnya, dibuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat kecil, disajikan dengan kuah santan dan gula merah cair. Rasanya sederhana, namun sarat nostalgia. Begitu pula es pleret, minuman tradisional berbahan tepung beras yang disajikan dengan kuah gula merah dan santan, sangat populer saat bulan Ramadan.

Sayangnya, di tengah menjamurnya makanan cepat saji dan tren kuliner modern, eksistensi makanan khas Blitar menghadapi tantangan serius. Banyak generasi muda yang mengenal burger dan minuman boba, tetapi asing dengan jenang grendul atau es pleret. Beberapa penjual makanan tradisional bahkan mengaku kesulitan mempertahankan usaha karena minimnya regenerasi dan kurangnya perhatian pasar.

Namun, secercah harapan tetap ada. Sejumlah pelaku UMKM, komunitas kuliner, hingga pegiat budaya mulai aktif mengangkat kembali makanan khas Blitar melalui festival kuliner, media sosial, dan wisata gastronomi. Upaya ini bukan semata soal ekonomi, melainkan juga perjuangan menjaga identitas daerah agar tidak terkikis zaman.

Makanan khas Blitar pada akhirnya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita—tentang tanah, tentang tradisi, dan tentang masyarakat yang merawat warisan leluhur melalui dapur mereka. Selama masih ada yang memasak, menyajikan, dan mencintai, kuliner khas Blitar akan terus hidup, menolak dilupakan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *