TPS Dibongkar, Dana Ratusan Juta Menguap: Bau Busuk Sampah, Busuknya Tata Kelola Desa Sekarputih

Berita Utama123 Dilihat
banner 468x60

TPS Dibongkar, Dana Ratusan Juta Menguap: Bau Busuk Sampah, Busuknya Tata Kelola Desa Sekarputih

Gresik || Gempar News –

banner 336x280

Bau busuk bukan hanya datang dari tumpukan sampah setinggi hampir satu meter yang sempat membusuk di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Desa Sekarputih, Kecamatan Balongpanggang. Bau yang jauh lebih menyengat justru tercium dari carut-marutnya tata kelola, kebisuan tanggung jawab, dan lenyapnya akal sehat Pemerintah Desa Sekarputih.

TPS yang dibangun dengan anggaran fantastis—diduga menelan ratusan juta rupiah dana negara—kini tinggal cerita busuk yang dikubur bersama sampah. Dibongkar begitu saja, tanpa solusi, tanpa kejelasan, tanpa rasa bersalah. Hingga hari ini, tidak ada penjelasan resmi, tidak ada rencana konkret, tidak ada pertanggungjawaban.

Ironisnya, alasan pembongkaran TPS justru menjadi tamparan keras bagi pemdes itu sendiri. Sampah menumpuk, bau menyengat, lingkungan tercemar. Namun pertanyaan besarnya: ke mana pemdes selama hampir tiga tahun TPS berdiri tanpa pengelolaan? Siapa yang tidur, siapa yang tutup mata, dan siapa yang menikmati proyek ini sejak awal?

Warga menilai, pihak yang paling patut disalahkan adalah Pemerintah Desa Sekarputih, bukan sampahnya. TPS tidak mengurus diri sendiri. Petugas tidak bekerja tanpa komando. Pembiaran selama bertahun-tahun adalah bukti nyata kegagalan kepemimpinan desa dalam mengelola fasilitas publik.

Lebih mencengangkan, pembongkaran TPS dilakukan tanpa sosialisasi, tanpa musyawarah, tanpa duduk bersama warga. Sebuah proyek publik bernilai ratusan juta rupiah diperlakukan seperti barang rongsokan: dibongkar diam-diam, dikubur bersama masalah, seolah dana negara tak lebih dari sampah yang bisa ditimbun begitu saja.

Sejumlah warga dan saksi menyebutkan banyak kejanggalan sejak awal pembangunan TPS. Semua serba tertutup. Tidak transparan. Tidak partisipatif. Tidak manusiawi. Padahal lokasi TPS berada di titik sensitif, berdekatan dengan UPT SD, Balai Desa, dan yang paling fatal—dekat dengan sumber air minum PAMSIMAS warga.

Sebuah keputusan yang oleh warga disebut sebagai bentuk kebodohan kolektif atau kesengajaan yang berbahaya.

Warga meyakini, jika sejak awal pemdes bersikap terbuka, gelombang penolakan pasti terjadi. Tidak mungkin warga waras membiarkan TPS berdiri di dekat sumber air minum mereka. Namun suara rakyat dibungkam sebelum sempat bersuara.

Proyek besar ini juga tidak melibatkan tokoh masyarakat, unsur warga, maupun pihak independen. Semua ditentukan sepihak. Semua diputuskan di ruang gelap kekuasaan desa. Hasilnya, bangunan berusia tiga tahun, anggaran ratusan juta rupiah, berakhir sia-sia—tanpa manfaat, tanpa kejelasan, tanpa rasa malu.

Situasi semakin panas saat pembongkaran TPS memicu gelombang protes warga. Alih-alih membuka dialog, Pemerintah Desa Sekarputih justru memilih jalur represif. Salah satu warga dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik, hanya karena persoalan ini sempat viral di media sosial seperti Facebook. Kritik dibalas laporan. Suara rakyat dianggap musuh.

Lebih menyedihkan lagi, pemdes sempat mengumbar janji akan membangun ulang TPS. Janji yang kini lenyap tanpa jejak, menguap bersama kepercayaan publik. Hingga berita ini diterbitkan, tidak ada pembangunan ulang, tidak ada progres, tidak ada kabar. Janji tinggal janji, tanggung jawab tinggal ilusi.

Kasus TPS Sekarputih menjadi contoh telanjang gagalnya program pemerintah di tingkat desa. Gagal karena petugas tidak ditertibkan. Gagal karena pelayanan kebersihan amburadul. Gagal karena pengawasan nyaris nihil. Gagal karena kekuasaan lebih sibuk menyelamatkan citra daripada menyelamatkan lingkungan dan kesehatan warga.

Sorotan tajam juga diarahkan pada Dinas Lingkungan Hidup, yang dinilai abai melakukan pengawasan berkala. Titik-titik rawan disalahgunakan. Proyek besar lolos tanpa kontrol ketat. Akhirnya, rakyat kembali menjadi korban, sementara oknum-oknum tetap nyaman berlindung di balik jabatan.

TPS Sekarputih bukan sekadar bangunan yang dibongkar. Ia adalah monumen kegagalan, simbol pemborosan dana publik, dan bukti bahwa tanpa transparansi dan partisipasi masyarakat, pembangunan hanyalah kuburan masalah yang ditutup rapat dengan tanah dan kebohongan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *