Gerakan “Sehari Rp 500” Ala Kepala Desa Suwito: Dari Desa untuk Desa, Jadi Ikon Kabupaten Ngawi

Berita Utama72 Dilihat
banner 468x60

Ngawi || Gemparnews.id –

Sebuah langkah inovatif lahir dari Desa yang dipimpin Kepala Desa Suwito. Melalui gagasan sederhana namun penuh makna, ia meluncurkan program “Pencanangan Sehari Rp 500”, sebuah gerakan sosial berbasis partisipasi warga yang kini ramai diperbincangkan dan bahkan mendapat apresiasi langsung dari Kapolres Ngawi. Tak hanya menjadi penggerak ekonomi sosial warga, program ini juga digadang-gadang akan menjadi salah satu ikon inovasi Kabupaten Ngawi.

banner 336x280

Kepala Desa Suwito mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari keprihatinan melihat kesenjangan sosial yang masih terjadi di tingkat desa. Banyak kebutuhan warga yang tidak dapat segera ditangani karena terbatasnya dana, sementara potensi gotong royong masyarakat desa masih sangat kuat.

“Kalau kita bisa menggerakkan semua warga untuk menyisihkan sedikit saja, katakanlah Rp 500 per hari, maka sebenarnya kita bisa mandiri. Kita tidak perlu selalu menunggu bantuan dari luar. Dari warga, untuk warga. Itu filosofinya,” ungkap Suwito saat diwawancarai usai pencanangan program di balai desa.

Dalam program ini, setiap kepala keluarga diharapkan menyisihkan Rp 500 setiap hari. Dana yang terkumpul kemudian dikelola secara transparan oleh tim desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, karang taruna, hingga perwakilan perempuan desa.

Penggunaan dana difokuskan pada : Kebutuhan mendesak warga miskin seperti bantuan kesehatan dan pendidikan. Pemberdayaan ekonomi desa melalui modal usaha mikro. Peningkatan infrastruktur kecil seperti perbaikan jalan desa, jembatan, atau fasilitas umum. Dana sosial darurat, misalnya saat terjadi musibah atau bencana.

Transparansi dijaga dengan laporan bulanan yang ditempel di papan informasi desa dan dipublikasikan melalui grup WhatsApp resmi desa.

Kehadiran Kapolres Ngawi dalam acara pencanangan menjadi bukti dukungan serius aparat terhadap program ini. Dalam sambutannya, Kapolres menyebut program “Sehari Rp 500” sebagai terobosan luar biasa.

“Ini adalah bentuk nyata kearifan lokal yang patut kita dukung. Desa Suwito berhasil membuktikan bahwa inovasi tidak harus mahal. Justru dari hal kecil seperti Rp 500 sehari, lahir kekuatan solidaritas yang bisa memperkokoh persatuan masyarakat,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.

Kapolres juga berharap program ini ditiru oleh desa-desa lain di Kabupaten Ngawi bahkan bisa menjadi gerakan sosial tingkat kabupaten. Bagi masyarakat, Rp 500 memang tidak terasa berat. Namun ketika dikumpulkan bersama, nilainya sangat signifikan.

Sutarmi (42), warga Dusun Krajan, menilai program ini sangat membantu.
“Kadang saya merasa tidak bisa berbuat banyak kalau ada tetangga kesusahan. Dengan program ini, saya bisa ikut andil walaupun cuma Rp 500 sehari. Yang penting hati tenang karena sudah ikut membantu.”

Slamet (55), pedagang pasar desa, bahkan menganggap program ini bisa melatih kedisiplinan.
“Saya biasanya jarang menabung. Sekarang dipaksa menabung walau kecil, lama-lama jadi kebiasaan baik.”

Pemerintah Kabupaten Ngawi menilai langkah Desa Suwito patut dijadikan model percontohan inovasi sosial. Jika dikembangkan ke tingkat kecamatan hingga kabupaten, gerakan ini bisa menjadi ciri khas Ngawi dalam membangun kemandirian ekonomi desa berbasis gotong royong.

Bupati Ngawi bahkan dikabarkan sedang menyiapkan agenda khusus untuk memasukkan program ini ke dalam katalog inovasi desa Kabupaten Ngawi tahun depan.

Meski menuai banyak apresiasi, sejumlah pengamat desa memberikan catatan penting agar program ini tidak sekadar menjadi slogan.

Transparansi, Dana gotong royong sekecil apapun tetap berpotensi menimbulkan kecurigaan bila tidak ada pengawasan ketat. Konsistensi warga – Menabung Rp 500 sehari mungkin ringan, tetapi kedisiplinan jangka panjang harus dibangun dengan kesadaran kolektif. Pengelolaan profesional – Program sosial sering gagal bukan karena niat, melainkan karena tata kelola yang lemah. Oleh karena itu, perlu sistem administrasi keuangan yang jelas.

Aktivis LSM lokal, Doni Prasetyo, memberikan pandangan kritis:
“Program ini bagus, tapi jangan sampai hanya seremonial. Harus ada sistem audit desa, laporan terbuka, dan kontrol publik. Kalau tidak, yang sederhana bisa jadi persoalan besar di kemudian hari.”

Kepala Desa Suwito optimistis bahwa program “Sehari Rp 500” bukan sekadar gerakan sesaat, melainkan bisa menjadi budaya baru di desanya. Ia berkomitmen menjaga akuntabilitas serta mengajak semua pihak terlibat, termasuk kalangan muda desa.

“Kalau desa-desa lain mau meniru, saya justru bangga. Karena ini bukan soal siapa pencetusnya, tapi soal manfaat yang bisa dirasakan semua warga Ngawi. Mari kita buktikan bahwa dari desa, kita bisa memulai perubahan besar,” pungkas Suwito.

Gerakan “Sehari Rp 500” bukan hanya inovasi keuangan desa, melainkan sebuah filosofi gotong royong modern yang lahir dari kesederhanaan. Dukungan aparat, apresiasi pemerintah, hingga respon positif warga menjadikannya berpotensi besar menjadi ikon Kabupaten Ngawi. Namun demikian, tantangan transparansi dan konsistensi tetap harus dijaga agar semangat kebersamaan tidak berubah menjadi sekadar jargon.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *