Bongkar! SMAN 1 Bangsal Diduga Main Mata Dana BOS, 7 Siswa Fiktif Jadi “Hantu” Penerima Anggaran

Berita Utama216 Dilihat
banner 468x60

Mojokerto || Gemparnews.id –

Bau busuk dugaan penyelewengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tercium menyengat di SMAN 1 Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Hasil penelusuran dari Redaksi ini, menguak adanya selisih mencurigakan terhadap jumlah penerima BOS tahun ajaran 2024–2025 yang tak bisa dianggap remeh.

banner 336x280

Data resmi di SPJ Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM SPAN) mencatat jumlah murid penerima BOS di sekolah tersebut adalah 1.282 siswa. Ironisnya, jumlah siswa riil yang terdaftar di SMAN 1 Bangsal hanya 1.275 orang. Artinya, terdapat 7 siswa “siluman” yang entah dari mana asalnya, namun ikut terdaftar sebagai penerima BOS.

Selisih ini bukan sekadar perbedaan angka, melainkan indikasi kuat adanya manipulasi data yang bisa mengakibatkan kebocoran anggaran negara. Dana BOS per siswa per tahun di tingkat SMA berdasarkan ketentuan Kemendikbudristek adalah Rp 1.500.000. Dengan 7 siswa fiktif, potensi dana BOS yang “mengalir” tanpa penerima nyata dan jika dirincikan dapat mencapai puluhan juta Rupiah

Berdasarkan analisa jika modus seperti itu dilakukan selama 3 tahun masa sekolah, total potensi kerugian negara akan membengkak, 7 siswa dikalikan 1.500.000 = Rp 10.500.000 × 3 tahun = Rp 31.500.000

Jumlah ini hanyalah dari satu sekolah dan satu modus. Bayangkan jika pola seperti ini menjalar ke puluhan sekolah lain di Jawa Timur — kebocoran bisa melonjak hingga miliaran rupiah setiap tahunnya.

Pihak Sekolah Bungkam, MKKS Lempar Bola Panas Awak media mencoba meminta klarifikasi kepada Wardoyo, Plt. Kepala SMAN 1 Bangsal. Namun, pesan WhatsApp hanya dibaca tanpa balasan. Panggilan telepon seluler pun tak diangkat berkali-kali. Saat ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) setempat, Sutoyo, dihubungi, ia justru menyarankan agar wartawan langsung menghubungi Wardoyo.

Sikap bungkam dan saling lempar ini jelas bertolak belakang dengan prinsip transparansi publik. “Saya merasa ada upaya penutupan informasi sehingga dilempar kesana kemari. Padahal setiap warga negara berhak mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang diamanatkan tentang keterbukaan informasi publik, Apa yang mereka sembunyikan?” ujar wartawan media ini.

Meski modus seperti ini bukan Kasus Pertama wartawan Redaksi ini menegaskan, temuan di SMAN 1 Bangsal hanyalah puncak gunung es. “Bukan sekali dua kali saya menemukan praktik seperti ini. Banyak sekolah yang memanipulasi data penerima BOS. Kadang jumlahnya dikurangi, kadang malah ditambah dengan siswa fiktif. Ini bukan kesalahan teknis, ini permainan yang disengaja,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan efektivitas sistem pelaporan BOS yang seharusnya bisa mendeteksi penyimpangan. “Kalau sistem pusat tidak konslet, seharusnya kasus seperti ini langsung terdeteksi. Kalau lolos, berarti ada yang sengaja membiarkan atau ikut bermain,” katanya.

Ketua DPP LSM Gempar Siap Turun Tangan untuk mengawal kasus ini ke aparat penegak hukum. “Kalau ini terbukti, harus ada sanksi tegas sesuai undang-undang. Ini uang rakyat, uang anak-anak bangsa. Jangan main-main,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMAN 1 Bangsal belum memberikan keterangan resmi. Publik kini menunggu langkah nyata Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan aparat penegak hukum untuk membongkar tuntas kasus ini. Jika benar ada 7 “siswa hantu” di daftar penerima BOS, maka SMAN 1 Bangsal bukan hanya bersalah pada aturan, tapi juga pada generasi penerus bangsa yang haknya telah dirampas.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *