Gerak Jalan atau Gerak Akal? Tradisi Pejuang Tercoreng Aksi Curang Peserta”

Berita Utama60 Dilihat
banner 468x60

Mojokerto, 15 November 2025 – Event tahunan Gerak Jalan Suroboyo–Mojokerto kembali digelar dengan janji besar: menghidupkan semangat perjuangan, disiplin, daya tahan, serta kebanggaan kolektif warga Jawa Timur. Ribuan peserta tumpah ruah, mulai dari pelajar, komunitas olahraga, karang taruna, organisasi pemuda, hingga kelompok sosial dari berbagai kota, termasuk rombongan Ansor dari Taman Sidoarjo yang turut hadir sebagai bagian dari representasi pemuda daerah.

Namun suasana heroik itu mendadak berubah menjadi pertunjukan ironi, ketika sejumlah fakta dan laporan lapangan menunjukkan adanya praktik yang diduga kuat merusak nilai sakral acara ini. Bukan hanya terkait sportivitas, tetapi juga menyangkut integritas moral peserta dan efektivitas panitia dalam menjalankan tugas pengawasan.

banner 336x280

Kecurangan Terstruktur, Bukan Sekadar Keisengan, Berdasarkan pengamatan lapangan serta wawancara dengan beberapa peserta asli yang berjalan penuh dari garis start, ditemukan fenomena rombongan peserta yang menaiki mobil pickup, kemudian turun di kawasan Bubutan dan menyusun barisan seolah-olah mengikuti jalur resmi dari awal tanpa rasa bersalah.

Seorang peserta yang tidak ingin disebutkan namanya menyampaikan dengan nada kecewa

“Kami berjalan dari Surabaya dengan tenaga sendiri. Begitu sampai di area tertentu, kami melihat beberapa rombongan turun dari pickup, rapikan seragam, lalu masuk barisan seolah-olah pahlawan kesiangan. Ini bukan sekadar curang, ini melecehkan perjuangan,” ujar seorang peserta perempuan, mengaku berasal dari wilayah Sidoarjo.

Sementara itu, seorang saksi mata di area Bubutan juga turut menanggapi atas curangnya dan sifat tidak sportif tersebut

“Pickup-nya bukan datang tanpa rencana, mereka seakan sudah menunggu titik transit. Yang turun santai, masih segar, dan tidak kelihatan lelah sama sekali,” ungkap seorang pedagang kaki lima yang menyaksikan kejadian dari dekat.

Kegagalan sistem pengawasan semakin memperburuk citra acara ini. Beberapa titik dianggap tanpa penjagaan, tanpa verifikasi, dan tanpa pos kontrol keaslian perjalanan. Seorang relawan keamanan yang memberikan pernyataan off the record mengakui minimnya koordinasi

“Jumlah peserta besar, rute panjang, tapi pos kontrol minim. Banyak titik buta. Kalau ada yang curang, ya lolos saja. Kami tidak dibekali sistem verifikasi yang memadai,” ungkapnya.

Selain itu, seorang pemerhati event publik menilai bahwa panitia terkesan fokus pada seremonial kemeriahan, bukan kualitas pelaksanaan

“Kegiatan besar tanpa standar manajemen risiko dan monitoring akan selalu jadi panggung chaos. Event ini terlalu dibiarkan berjalan berdasar tradisi tanpa inovasi kontrol,” tegas seorang akademisi bidang olahraga dan manajemen event dari Surabaya.

Tidak hanya terkait moral dan disiplin, keselamatan pun menjadi isu utama. Banyak peserta melintasi jalur yang masih dilalui kendaraan umum. Kondisi tersebut menimbulkan bahaya serius, terutama bagi peserta yang kelelahan, dehidrasi, atau bahkan kehilangan fokus. Seorang relawan medis yang tidak mau namanya disebutkan dalam pemberitaan juga turut memberikan komentarnya

“Ada peserta yang hampir terserempet motor karena jalur tidak steril. Seharusnya ada pembatasan, bukan dibiarkan bercampur dengan lalu lintas harian,” jelasnya.

Acara ini pada awalnya dirancang sebagai ritual pembangunan mental, bukan sekadar parade konten media sosial. Namun tanpa pengawasan, penegakan disiplin, dan sistem verifikasi, maka nilai historisnya terancam berubah menjadi drama tahunan tanpa moralitas. Sebuah organisasi pemerhati olahraga tradisional menyampaikan pernyataan tegas

“Gerak jalan bukan soal sampai finish, tapi soal proses. Kalau proses diabaikan, maka event ini tidak lebih dari sandiwara adu seragam,” ujarnya melalui wawancara singkat.

Penegak integritas event publik harus melakukan evaluasi total, bukan perbaikan parsial. Jika tidak, gelaran ini bukan lagi kebanggaan, tetapi ritual tahunan tanpa makna, tanpa disiplin, dan tanpa kehormatan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *