Dusun Glugu Dicekik Limbah: Bau Bangkai Rajungan dari Pabrik PT SKSA Teror Warga Siang Malam

Berita Utama129 Dilihat
banner 468x60

“Dusun Glugu Dicekik Limbah: Bau Bangkai Rajungan dari Pabrik PT SKSA Teror Warga Siang Malam”

“Sungai Jadi Kuburan Limbah Udang: Dugaan Kejahatan Lingkungan PT SKSA Mengguncang Mantup”

banner 336x280

“Air Berubah Racun, Sawah Terancam Mati: Limbah Pabrik Rajungan Diduga Mengalir Bebas di Lamongan”

“Industri Untung, Warga Puntung: Limbah Busuk Pabrik Rajungan Diduga Dibuang Tanpa Ampun”

“Nafas Warga Dusun Glugu Dirampas Bau Limbah Rajungan, DLH Lamongan Masih Diam?”

Lamongan // Gempar News –

Aroma busuk yang menusuk hidung kini menjadi “penanda waktu” bagi warga Dusun Glugu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Setiap hari, bau anyir bercampur amis menyengat diduga berasal dari aktivitas pabrik pengolahan rajungan (udang) milik PT Sumber Kemenangan Sejahtera Abadi (PT SKSA), yang disinyalir telah berubah menjadi mesin pencemar lingkungan dan ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Dugaan pembuangan limbah cair secara brutal dan tanpa pengolahan ke sungai, selokan, dan saluran irigasi persawahan kini menjadi teror yang terus menghantui warga. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru diduga berubah menjadi saluran kematian ekosistem, menyebarkan bau busuk, rasa mual, hingga ketakutan akan dampak kesehatan jangka panjang.

Fakta ini diungkap langsung oleh Bodeng, si Rambut Jambul Merah, jurnalis dari Media Cakranusantara, yang turun langsung ke lapangan menyusul rentetan aduan warga terdampak. Dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (04/01/2026), Bodeng menyebut bahwa kondisi di sekitar pabrik PT SKSA jauh dari kata normal.

“Limbah pencucian dan penggilingan rajungan itu diduga dialirkan langsung ke sungai dan saluran irigasi tanpa proses pengolahan. Bauhnya bukan bau biasa, ini bau busuk yang menyengat, menusuk hidung, bikin orang bersin-bersin, mual, bahkan menghilangkan nafsu makan,” tegas Bodeng dengan nada geram.

Lebih menyeramkan lagi, limbah tersebut tidak hanya mengalir ke sungai, tetapi juga menyusup ke jalur irigasi persawahan warga, mencemari tanah yang selama ini menjadi tumpuan hidup petani Dusun Glugu.

“Ini bukan sekadar bau. Ini ancaman serius. Tanah sawah terancam rusak, kesuburan menurun, dan warga dipaksa hidup berdampingan dengan bau bangkai laut setiap hari. Ini kejahatan lingkungan yang perlahan tapi mematikan,” lanjut Bodeng.

Warga Dusun Glugu kini hidup dalam ketidakpastian. Siang hari mereka mencium bau busuk, malam hari mereka dihantui pertanyaan: apa yang mereka hirup, apa yang mereka tanam, dan apa yang mereka konsumsi masih aman?
Beberapa warga terdampak seperti Bpk. Irwanto, Bpk. Joko, Abh. Kasmadi, dan Bpk. Ngali Susantok, yang memiliki lahan persawahan dan tempat tinggal di sekitar area pabrik, menyuarakan keresahan yang sama. Mereka mengaku aktivitas pertanian terganggu, kenyamanan hidup hilang, dan nilai lingkungan kian terdegradasi.

“Kami tidak menolak pabrik, tapi jangan korbankan kami. Jangan buang limbah sembarangan. Kami ini manusia, bukan tempat sampah,” tegas Bpk. Irwanto, koordinator warga Dusun Glugu, yang juga memiliki warung berjarak sekitar 200 meter dari pabrik PT SKSA.

Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lamongan segera turun tangan, melakukan inspeksi mendadak, uji baku mutu air, dan memberikan sanksi tegas bila terbukti ada pelanggaran. Jika dibiarkan, kasus ini dikhawatirkan menjadi preseden buruk: industri untung, rakyat buntung, lingkungan hancur.

Ironisnya, saat tim investigasi mencoba menemui pihak manajemen, HRD maupun Manajer PT SKSA tidak dapat ditemui. Satpam pabrik hanya menyampaikan bahwa pihak internal belum bisa memberikan keterangan. Sikap tertutup ini justru memperkuat kecurigaan publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di balik pagar pabrik.

  • Kini masyarakat menunggu:
    Apakah DLH Lamongan akan bertindak tegas atau justru bungkam?
  • Apakah hukum lingkungan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas?
  • Sampai kapan warga Dusun Glugu harus menghirup bau busuk demi keuntungan segelintir pihak?
    Gempar News akan terus mengawal kasus ini.

Karena ketika lingkungan diracuni, yang dibunuh bukan hanya air dan tanah—tetapi masa depan.bersambung…

(Tim Investigasi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *